Kevin Senin, 22 November 2021 | 56

Kisah Inspiratif 5 Pengusaha Sukses di Sumatera Utara

Menjadi seorang pengusaha tidak luput dari tantangan usaha yang dihadapinya, sebabnya harus peka terhadap peluang usaha. Era digital memberikan tantangan baru untuk tiap usaha, walaupun sukses di pemasaran konvensional kini juga harus perlahan memanfaatkan pemasaran digital.

Era digital mengharuskan pengusaha untuk selalu terbuka terhadap perubahan. Kreatif dan inovatif mengembangkan produk dan meningkatkan pelayanan untuk pelanggan. Pemasaran digital bukan tentang jualan produk secara langsung dengan online melainkan bagaimana menciptakan cerita yang menarik perhatian banyak orang dengan memanfaatkan media online. Menuntut pengusaha harus memperluas dan memperkuat relasi di dunia maya, relasi antar pengusaha ataupun relasi yang mampu mengembangkan usaha yang sedang dijalani demi kemajuan usahanya. Yuk, simak beberapa kisah singkat pengusaha sukses di Sumatera Utara yang bisa menginspirasi dan sebagai referensi bagi yang belum menemukan jenis usahanya:

 

>Pengusaha Kain Ulos

Robert Sianipar dari Medan, membuka Galeri Ulos Sianipar sejak tahun 1992, ragam tantangan yang dihadapinya, pernah mengalami kerugian karena 2000 lembar kain ulos lembab dan rusak, akibat minim peminat stigma pasar akan kain ulos itu sendiri. Mencoba bangkit kembali dengan terobosan baru agar pasar lebih terbuka luas, menghadirkan tas dari ulos, ikat pinggang dari ulos, dan pernak-pernik lainnya. Berawal dari 17 orang pekerja, kini memperkerjakan ratusan orang pengrajin ulos. Keberhasilan ini tidak sebentar, berawal dari konsistensi berusaha dan berinovasi terhadap permintaan, hingga mendapat kesempatan memenuhi pesanan pemerintah daerah bahkan pesanan Presiden Jokowi.
sumber: medan.tribunnews.com

 

>Pengusaha Anyaman Bambu

Sumarno dari Desa Sidomulyo, Kec. Stabat, Kab Langkat. Merintis usaha anyaman bambu sejak tahun 1993, ide usaha ini digeluti sebagai sumber pendapatan untuk menopang biaya hidup keluarga. Perlahan usahanya berkembang, produk kerajinannya antara lain menganyam atap pohon nipah, kayu kelapa, tepas.  Berawal dari 2 anggota, kini memiliki 30 orang yang pengrajin untuk menganyam bambu. Permintaan pun sangat luas menjangkau Aceh, Pekanbaru, Padang, Rantau Prapat dan Medan sekitarnya, sementara bahan baku diperoleh dari Tanah Karo, Kabanjahe, Kwala Sawit dan Langkat. Usaha ekonomi kreatif sangat jarang untuk bertahan, maka perlu konsistensi dan dukungan dari segala sektor, pemasaran, pemodalan dan lainnya.
sumber: analisadaily.com

 

>Pengusaha Rajut

Tety Yolanda dari Medan, memulai usaha dari hobi yang ditekuni dan bermodalkan Rp14.000 di tahap awal merintisnya. Ragam kerajian yang bisa dibuatnya dari bahan rajutan benang, dari mulai tas hingga souvenir dan pernak-pernik lainnya. Dirintis sejak tahun 2012 mulanya membuat gantungan kunci dari modal satu gulung benang, tahun berikutnya menerima pesanan rajut untuk hantaran dan mahar. Memanfaatkan kebaikan era digital, mempelajari banyak hal dan membuka lebih luas diferensiasi produk kerajian rajutan untuk segala kebutuhan. Walau banyak tantangan yang dihadapi, kerajinan rajutan masih banyak peminatnya.
sumber: medan.tribunnews.com

 

> Pengusaha Keripik Kentang

Liesya, memulai usaha keripik kentang ini sejak masa pandemi covid19, menjadi pengusaha yang berhasil memperkenalkan produk keripik kentang pada masyarakat. Sebulan bisa menghabiskan bahan baku 500kg-1ton kentang, walaupun usia usahanya terbilang muda tapi sudah menjangkau banyak pembeli melalui pemasaran online. Rahasia dari keripik kentangnya adalah bumbu racikan buatan sendiri, tanpa MSG dan tanpa pengawet. Keripik kentang uwais, sangat diminati para penikmatnya, bahkan Liesya pernah menerima pemesanan 10.000 bungkus keripik yang hanya dikerjakan dalam waktu 1 minggu dengan memperkerjakan banyak orang.
sumber: medan.tribunnews.com

 

>Pebisnis Kosmetik

Yenni Tarigan, berawal dari jualan kosmetik dari pintu ke pintu kini memiliki outlet kosmetik sendiri. Di tahun 2016 usaha ini dimulai, hanya dengan membawa persediaan produk kecantikan seadanya dengan modal terbatas, berjualan dari pintu ke pintu. Tantangannya adalah meyakinkan calon pembelinya bahwa kosmetiknya bukan produk abal-abal. Tetap berusaha karena yakin produknya merupakan produk yang dibutuhkan, perlahan memiliki banyak pelanggan dan kini telah memiliki outlet kosmetiknya.
sumber: medan.tribunnews.com

 

Bagi #KawanSumut yang ingin mengembangkan usahanya, Bank Sumut dengan senang hati membantu dengan menghadirkan KUR.  KUR (Kredit Usaha Rakyat) merupakan kredit investasi dan/atau modal kerja yang diberikan kepada debitur individu/perseorangan, kelompok usaha dan/atau badan usaha yang produktif dan layak dengan bantuan subsidi bunga dari Pemerintah. Nah, banyak kelebihan dari KUR Bank SUMUT yang memberikan #KawanSumut keuntungan, diantaranya:

-. Tidak dikenakan biaya administrasi
-. Tidak dikenakan biaya provisi
-. Suku bunga 6% efektif per tahun
-. Plafond KUR Mikro sampai dengan Rp 25.000.000
-. Plafond KUR Kecil > 25 Juta s.d 500 juta
-. Dapat disalurkan di seluruh unit kantor Bank Sumut di wilayah Sumatera Utara dan jakarta serta Batam
-. Proses cepat dan layanan prima serta telah real time dengan Kementerian Keuangan

Dari kisah singkat pengusaha di atas, semoga bisa menjadi referensi dan inspirasi bagi para calon pengusaha sukses. Menjadi pengusaha tentu memerlukan persiapan yang matang dan juga dukungan eksternal untuk semakin mengembangkan usaha yang sedang dijalankan. Yuk kembangkan usahamu sekarang melalui KUR Bank Sumut!